Imaji Kasih Dalam Kemajemukan



Seni Lukis Wisnu Sasongko

Dapatkah spiritualitas kasih diimajinasikan lewat ungkapan seni rupa? Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan di atas akan dijawab melalui eksposisi seni lukis Wisnu Sasongko. Ada dua subyek persoalan di dalam pertanyaan tersebut yang ingin dirangkai ke dalam suatu ekspresi seni rupa, yakni mengolah persoalan ikonografi dan Keindonesiaan. Ada dua landasan teologis untuk mengembangankan seni religi, yakni mandat spiritual dalam eksposisi iman Kristen dan mandat budaya demi membangkitkan nilai keindahan seni reflektif serta kesegran. Dalam perubahan jaman ini, seni bertemakan religi tidak masalah untuk tampil di kancah dunia kreatif. Isu atau pengalaman keagamaan justru seringkali menjadi sumber inspirasi klasik sekaligus segar bagi para seniman kontemporer. Di sinilah eksposisi seni rupa Wisnu Sasongko berangkat untuk mengembangkan ikonografi seni religi ke dalam konteks keragaman budaya Indonesia melalui ungkapan kasih yang membangkitkan gerak kehidupan harmoni dalam pluralisme budaya. Kasih tak bisa dilukiskan tanpa pengalaman menyatakan lewat perbuatan hidup. Melalui pengalaman perupa menggali peristiwa kasih itu mewujud dan diimajinasikan di dalam ekspresi gerak keselarasan hidup religi serta imaji alam.

“I paint what I can see, what I can touch, what I can feel—a utopia of love expressed in the reality of life...The Kingdom of God has already come when we practice love”.

Pengalaman melukis Wisnu Sasongko mulai sejak berangkat di tahun 1992-1995 ketika memulai studi seni rupa murni pada tingkat sekolah kejuruan SMSR Yogyakarta. Kemudian dilanjutkan masuk pada Fakultas Seni Rupa Murni di ISI Yogyakarta hingga mempertanggungjawabkan tugas akhir berupa pameran seni lukis bertema “Manusia Teriluminasi” pada tahun 2001 di Galeri Seni Murni ISI Yogyakarta. Rupanya menggumuli persoalan spiritualitas yang dialami secara pribadi dan melihat gejala sosial-politik menyikapi keragaman religi-budaya sebagai gagasan berkesenian yang masih menjadi subyek persoalan. Perupa dan Surajiya berpameran seni lukis bertema “Hilangnya Cinta” pada tahun 2000 disponsori oleh lembaga Karta Pustaka bertempat di Purna Budaya UGM, dimana menyikapi suasana sosial-politik yang chaos-memprihatinkan dengan berbagai peristiwa kerusuhan SARA pada tahun 1998 hampir di berbagai tempat di Jawa, Ambon, Poso, sebagai dampak krisis ekonomi hingga bergulirnya era Reformasi. Isu primordial mayoritas-minoritas penganut Kristen dan kaum keturunan Cina mengalami penindasan secara massif yang ditunggangi secara politis atau konteks kekuasaan, telah merusakkan sendi-sendi kehidupan harmoni yang menjunjung kebinekaan. Melalui seni lukis bergaya dekoratif-imajinatif, perupa ingin membangkitkan peristiwa ingatan akan keprihatinan seraya membangunkan imaji kasih Illahi yang menguatkan umat manusia akan pertolongan-Nya serta pengharapan sejati akan anugerah pembaharuan hidup.

Tema “Hilangnya Cinta” membangunkan imaji ingatan sekaligus perenungan reflektif yang kemudian mengispirasi saya untuk mengeksposisi secara lebih ekpresif dalam pendekatan gaya dekoratif-impresif. Konsistensi pengembangan tema religi pada even-even seni rupa nasional, di mana perupa mulai berkoneksi dengan jaringan seni religi serta even-even pameran di Eropa-Amerika. Pada tahun 2001 bergabung dengan ACAA (Asian Christian Art Association) dan mulai berpameran secara regular antara lain di tahun 2001 mewakili seni religi Indonesia ke Canada-America bekerjasama dengan lembaga Menonite Center.Di tahun 2002 secara khusus perupa diminta berpameran berdua dengan Prof. Hi Qi untuk membuka perdana galeri seni di Univ. IOWA, USA. Dan sebagai peneguhan untuk mengembangkan seni religi, perupa beroleh kesempatan program riset seni lukis pada tahun 2004-2005 di lembaga OMSC- Sacred Music di Yale University, New Haven, CT, USA. Ungkapan seni lukis perupa bawakan mengangkat spirit kasih dalam konteks pluralitas Keindonesiaan bertema “Harmony and Diversity”. Studi residensi meliputi kegiatan studi, pameran dan presentasi di beberapa kota khususnya di beberapa kota di Amerika utara. Dari hasil riset seni lukis dan berpameran di Sacred Mussic of Yale university untuk diulas dalam wujud buku seni rupa dan disponsori oleh Christian Studies Center di New York serta dipublikasikan oleh lembaga Overseas Ministries Study Center di New Haven pada tahun 2008.

Di hari-hari ini sikap fanatisme-intoleransi terhadap keberagaman berpotensi menjadi acaman serius bagi dunia dan masa depan umat manusia, di mana tafsir-tafsir agama seringkali dipakai demi memaksakan suatu tujuan perubahan radikal serta kekuasaan. Perupa diingatkan akan sebuah penggalan teks di Alkitab yang menggugat kualitas keimanan ditunjukkan, “..Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar dari pada hidup keagamaan..”. Membangkitkan pengalaman perupa bahwa kegairahan religi itu melampaui tradisi, yakni dilandaskan mengalami Kasih Illahi. Kejadian runtuhnya menara WTC pada 11 September 2001, bom Bali I (2002), bom Bali II (2005), serta berbagai aksi radikalisme suatu keagamaan menjadi keprihatinan mendalam perupa serta membuahkan refleksi imaji-imaji akan dunia perdamaian. Seorang penulis, Samuel Tumanggor melontarkan nada geramnya melihat berlangsungnya budaya kekerasan di negri ini, “Jadi dalam seni kita dibawa pada pertanyaan serius: Sudah berhasilkan kita membangun jiwa Bangsa?..Dengan kata lain, aspek jiwaninya tidak atau sangat kurang diasah. Majal. Tumpul”.

Ungkapan seni pada saat ini suka tidak suka berkaitan dengan persoalan hidup modern yang mencirikan suatu kemajuan dalam rasionalitas, dunia keilmuan, teknik, mekanika produksi industrial, transportasi, telekomunikasi. Di mana kompleksitas persoalan hidup manusia modern ditandai dengan penuh persaingan, ketegangan, ketergantungan, justru menjauhkan manusia akan hubungan teologis dengan Tuhan dan hubungan naturalnya dengan alam semesta. Pengalaman paradoksal di mana dunia modern menciptakan tujuan pasti, kemajuan, kecepatan, kenikmatan. Namun disisi lain juga membentangkan kenyataan akan dunia ketidakpastian, kemunduran, kesahajaan hidup. Adanya problem dilema akan dunia kemapanan menimbulkan paradoks budaya dalam penciptaan seni rupa Wisnu Sasongko. Peristiwa bencana alam Tsunami 2005 di Aceh serta gempa bumi 2006 di Yogyakarta telah membangkitkan refleksi spiritual bertemakan rusaknya harmoni alam oleh karena kerakusan manusia dalam karya-karya bergaya dekoratif-impresif dari tahun 2004-2009. Kary-karya pada periode ini banyak dipamerkan pada even-even solo maupun partisipasi di tingkat nasional dan internasional, seperti pameran dan presentasi seni kontekstual pada tahun 2008 di Base-Zurich, Swiss. Sebuah pameran kehormatan 5 perupa Asia di Museum MOBIA, Manhatan-New York dan mempublikasikan buku kompilasi penulisan “The Christian Story: Five Christian Artist Today”, Museum of Biblical Art, New York, D Giles, Limited, London, UK. 2007.

Perupa ditantang mengungkapkan gagasan tematik dalam pendekatan teknik-artistik yang khas dengan memadukan gaya modern dan tradisional dekoratif. Pengalaman belajar seni rupa modern baik secara langsung maupun mempelajari hasil-hasil reproduksi karya, banyak memberi pengaruh dalam proses kesenian Wisnu Sasongko terutama kekuatan ekspresi seni impresionis hingga kubisme. Perupa mengagumi pencapaian seni para maestro terutama gaya seni rupa Monet, Matisse, Van Gogh, Picasso, Paul Klee, dan Chagall. Di mana sebagian mendasarkan akan pendekatan seni eksprimental dalam ungkapan ekspresif dan bersifat spontanitas yang bersumber dari kekuatan alam bawah sadar. Brush stroke yang liar dihasilkan serta pengubahan bentuk-bentuk deformatif, daya kenaïfan; bermain-main serta imajinatifnya dunia subyektifitas terasa dikembalikan pada pengalaman spiritual paling primitif sekaligus mengagumkan mendekati seni di gua-gua di Spanyol-Prancis di Eropa maupun gua Leang di Sulawesi, Indonesia. Perupa menyadari akan potensi artistiknya dalam mengolah bentuk natural yang begitu kuat membentuk persepsi seni, sehingga lewat proses belajar formal serta mengalami sendiri relaitas dunia seni rupa serasa makin menguatkan kekuatan esensial pada garis dan tekstur. Lewat ungkapan spontanitas garis dan evek tekstur artistik perupa mengolah potensi spontanitas bentuk-bentuk guna mewakili impresi kesahajaan esensial dalam membangun imaji spiritual seni rupa.

Ketika seni berada di luar fungsinya sebagai media peribadatan religi, maka ungkapan seni rupa lebih dapat berelasi di wilayah universal meskipun dibangun dari ruh imanensi sekaligus transendensi. Perupa tak dapat mengelak akan potensi ikonografi Kristen telah sedemikian kuatnya mengakar, sehingga perlunya dikembangkan. Bertolak dari persoalan mengembangkan jenis ikonografi yang dirasa hanya mengulang-ulang tradisi keagamaan tanpa menimbang konteks perubahan kultural, sehingga para penghayat seni terasa sulit dihantarkan kepada suatu pengalaman menemukan dirinya serta lingkungannya serta berefleksi akan Ke-Tuhanan yang meliputi persoalan kultural. Perupa di sini beroleh berkat untuk membagi segala perenungan, penghayatan, serta pengalaman imani akan eksposisi kasih yang abstrak melalui pengolahan bahasa universal seni, baik pada even pameran solo maupun partisipatif. Pameran bertema, “Dia Sang Kasih” pada 2009 di Galeri Nasional, pameran seni Kristiani Asia di Malaysia, pameran solo pada 2012 di Adis’s Gallery di Ubud, Bali.

Sejak tahun 2009 pengalaman seni rupa Wisnu Sasongko bertambah dengan keberanian perupa merambah ke jalur riset studi ikonografi dan sebuah inisiatif pengembangan seni religi konteks keragaman kultur Indonesia. Beberapa even seni rupa sebagai media dialogis interreligious dalam pameran bersama ACAA pada tahun 2009 di Galeri Affandi, juga even pameran pembukaan Pondok Pesantren Kali Opak, Yogyakarta. Undangan sebagai pembicara pada seminar internasional seni religi dan teologi pada tahun 2010 dengan professor Volker Kuester di Universitas Kristen Duta Wacana, Yogyakarta. Pada tahun 2010 bersama beberapa perupa Kristiani dari beberapa perwakilan kota Jakarta, Bandung, Bali, Menado, Yogyakarta dan para inisiator membentuk komunitas Seni Rupa Kristiani Indonesia (SERUNI) bertempat di Ciawi, Bogor. Dan hingga kini bersama SERUNI telah menghasilkan berbagai pameran seni rupa Kristiani, seminar serta kerjasama berkelanjutan dengan beberapa lembaga seperti, School of Desaign Universitas Pelita Harapan, fakultas Seni Rupa Universitas Maranatha di Bandung, Sekolah Tinggi Teologia Jakarta, Sekolah Tinggi Teologia Amanat Agung, kedoya. Kelangsungan seni religi bersama dengan SERUNI juga membangun dialog interreligious antara lain dalam pameran seni mandarin pada 2015 di Mall Pluit dan pada tahun 2016 berpartisipasi dalam kegiatan pameran-pertunjukan-sarasehan dialogis dalam tajuk “SESRAWUNGAN” oleh lembaga LPPP UGM, Yogyakarta.

Perupa,
Wisnu Sasongko



Comments

Popular posts from this blog

Biografi Seni Lukis Wisnu Sasongko