Ekspresi Seni Religi Pos Kolonial


Eksposisi Seni Lukis Wisnu Sasongko


Melihat perkembangan Kekristenan di Indonesia, salah satu monumen kesejarahan itu dapat dilihat dari seni bangunan gereja serta elemen seni rupa dalam konteks peribadatan. Artefak atau peninggalan-peninggalan gereja menyaksikan bukti yang menarik untuk melihat timeline sejarah masuknya agama kristen sekaligus pengaruh budaya Barat di bagian-bagian wilayah di Indonesia semenjak abad ke-16 melalui kolonialisme bangsa Portugis, diikuti oleh Belanda. Beberapa peninggalan gereja bergaya seni ekelektik dari abad 18-19 masih bisa kita temukan, antara lain gereja St. Yusuf Gedangan di Semarang, gereja Bintaran di Yogyakarta, katedral St. Petrus di Bandung, gereja katedral Jakarta (lihat image kroping No. 4). Pengaruh gaya romanesk serta gotik yang paling banyak bercampur dan diadobsi di Indonesia.

Image Kroping no. 4. Foto reproduksi gereja eklektik Indonesia: 1. Gereja St. Yusuf Gedangan di Semarang, 2. Gereja Bintaran di Yogyakarta, 3. Katedral St. Petrus di Bandung, 4. Katedral Jakarta.


Harus diakui belum adanya kesejarahan seni rupa kristen Indonesia, selain beberapa artefak seni bangun eklektik, seni patung, dan seni dalam peribadatan gerejawi yang merujuk adanya persoalan kontekstualisasi. Ekspresi seni rupa religi-kristen belum sampai ke tahap membentuk kesenian yang berdampak suatu perubahan budaya sekalipun seni berdiri di luar institusi gereja namun bukan lagi sebagai kepanjangan tangan melainkan sebagai mitra pengemban mandat spiritual dan budaya. Suatu hasil kesenian religi boleh dimengerti sebagai hasil olah pengalaman-penghayatan-pergumulan akan aplikasi nilai-nilai kekristenan dalam konteks budaya. Memang dirasa masih sulit untuk melepaskan diri dari olah ikonografi yang telah sedemikian melekat kuat dalam memori agama Kristen. Beberapa karya maestro seniman modern Indonesia sebut saja S. Sudjojono (1913-1989) dalam gaya realisme sosial dan Basuki Abdullah (1915-1993) dalam gaya naturalisme, menunjukkan adanya ekspresi religiusitas dalam kesenian modern mereka. Hegemoni aliran-aliran seni modern yang diperluas melalui kolonialisme turut membentuk proses kesejarahan seni rupa modern Indonesia. Berlanjut ke generasi perupa G. Sidharta (seni patung-grafis-lukis), Bagong Ksudihardja (seni lukis minyak-batik), Nyoman Dharsane (seni lukis gaya pewayangan Bali), Ketut Lasia (seni lukis tradisional Bali) yang mulai berani melakukan kontekstualisasi dengan memadukan teknik artistik ala Barat ke dalam karakter budaya Keindonesiaan.
Istilah seni rupa kristen secara epistemologis belum dapat dipakai menegakkan identitas, penulisan ini memerlukan beberapa perangkat untuk menandai keberadaan seni religi kontekstual di Indonesia. Pengembangan seni religi masih berlangsung pada taraf ekspresi personal, yakni dalam rangka menghayati nilai-nilai keimanan. Melihat tingkat apresiasi serta infrastruktur kesenian di Indonesia, maka belum dirasa cukup memadai membicarakan seni gerejawi dan religi kontemporer Indonesia.

Image kroping no. 5. Foto dokumentasi Wisnu Sasongko, Patung Yesus media terakota di Gereja Puh Sarang di Kediri, Jawa Timur. Dan di sebelah kiri, patung “Yesus Raja” di gereja Ganjuran di Bantul, Yogyakarta.


Terbentuknnya sejarah seni rupa modern Indonesia bermuatan ideologis dalam konteks perjuangan demi membebaskan diri dari penjajahan Belanda maupun Jepang. Sehingga ekspresi seni rupa menjadi bagian dalam membangkitkan jiwa Keindonesiaan untuk menyatukan kekuatan masyarakat majemuk. Lain dengan pengembangan seni peribadatan kristen berada dibawah kendali institusi gereja, ada kontruksi ideologi kontekstual dibalik pengembangan ikonografi patung Yesus di gereja Puh Sarang dan “Yesus Raja” di gereja Ganjuran. Bagaimana patung batu putih dari penggambaran Yesus di Puh Sarang punya konstrusksi figur tampil dalam aspek kesahajaan gaya dekorataif yang dikontraskan dengan karakter terakota pada latar mimbarnya. Lain dengan patung ‘Yesus Raja” di Ganjuran yang tengah duduk pada singgasana, di mana sosok keagungan dan kewibawaan seoarang Raja ditampilkan dalam kelengkapan atribut-atributnya. Di sinilah seni rupa gerejawi dalam konteks peribadatan di Indonesia, sesungguhnya potensial untuk mengarahkan pandangan meditatif guna memperkaya keimanan.

Patricia C. Pongracz menuturkan bagimana pesan injil disampaikan oleh para perupa Asia dalam pengantar buku pameran “The Christian Story: Five Christian Artist Today” (perupa Wisnu Sasongko termasuk di dalamnya) yang berlangsung selama Juni-Sepetember 2007 di Museum of Biblical Art, New York, demikian: Seni rupa menjadi bagian relevan dalam mencerahkan dunia akan kekristenan yang universal. Misionaris gereja katolik dan protestan telah mendorong para seniman lokal untuk bisa mengintepretasikan alkitab melalui media seni, norma, tanda dam simbol-simbol sebagai bagian dari strategi pendekatan ke masyarakat.

Munculnya seni religi pasca kemerdekaan Republik Indonesia, baik seni Islam berbasiskan kaligrafi, seni Kristen berbasiskan ikonografi, seni Hindu menarasikan kisah-kisah kitab Weda bergaya khas dekoratif Bali. Ungkapan seni bermutu kiranya berani memadukan antara kualitas penciptaan artistik demi membangkitkan nilai-nilai reflektif. Secara lebih khusus perupa Gregorius Sidharta dan pengamat seni kontemporer, memandang seni rupa kristen seharusnya memiliki kualitas kesenian yang tinggi-tentunya dengan saksi “reputasi” dalam dunia kesenian memiliki penghayatan kristen yang mendalam, dan memiliki peran dalam ibadah kristen.

Bagong Kussudiardja (1928-2004) merupakan salah satu perupa modern Indonesia yang banyak melahirkan karya-karya seni pertunjukan tari kontemporer dan menghasilkan karya seni lukis atas penghayatan iman kristen yang dikontekstualisasikan dalam budaya lokal. Seni lukis Bagong serta teknik batik lukis sebagai media mentaransformasikan pengalaman iman ke dalam gaya ekspresionis. Lukisan “Yesus Sang Guru”, Yesus dipersonifikasikan laiknya orang Jawa modern berkulit kecoklatan dengan gaya pakaian seadannya sedang mengajar banyak orang tentang Kerajaan Allah di tepian pantai (lihat image karya no. 6.a). Yang menarik dari karya-karya Bagong adalah cirikhas lukisan figurtatif dengan gestur-gestur tarian. Spiritualitas gerak tarian sedang memuliakan Allah melatarbelakangi pelukisan figuratif Yesus tengah mengabarkan injil sebagai penjala manusia Warna tanah kecoklatan kusam, suasana alam di pinggiran pantai selatan Jawa, serta pelukisan orang-orang lokal kebanyakan sedang mengkontekstualisasikan renungan injil.

Image karya no. 6. a. Di sebelah kanan, karya Bagong Kusudiardja lukisan “Yesus Sang Guru” dan image karya 6. b. di sebelah kiri, lukisan “Penyaliban” karya Ketut Lasia.


Ketut Lasia, perupa tradisional bergaya dekoratif Kamasan Bali mendasari seni lukisnya atas pengalaman suka-duka menjadi kristen hidup di tengah masyarakat Bali yang mayoritas beragama Hindu dan kental akan praktik ritual keagamaan. Jika seni dekoratif Bali banyak dipakai untuk mengekspresikan kisah-kisah agama hindu, Ia pun berani mentransformasikan penghayatan kisah-kisah injil naratif dalam imaji suasana budaya serta gaya dekoratif Bali. Salah satu karyanya berjudul “Penyaliban” dibuat tahun 2003 dengan media akrilik di atas kain (lihat image karya no.6.b). Karya ini menggambarkan peristiwa penyaliban Yesus Kristus beserta kedua penjahat di sisi kanan dan kiri tengah berada dalam konteks alam-budaya Bali yang elok, melukiskan kehidupan harmoni alam serta sosialitas antar manusia. Menggambarkan ironi antara Penyaliban yang identik dengan kekejaman hukuman penjahat, kini ditempatkan dalam suasana harmoni alam yang tenang, pemandangan tumbuhan kehijauan nan subur, orang-orang bercengkrama, dan hewan bebas berkeliaran. Inkulturasi melalui pengolahan ikonografi dipakai oleh Ketut Lasia untuk membangkitkan rahmat injil bagi masyarakat serta konteks kesenian Bali.

1. Imaji Injil Kasih
Dapatkah kekristenan Indonesia diimajinasikan lewat seni rupa? Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan di atas akan dijawab melalui eksposisi seni lukis Wisnu Sasongko. Persoalan identitas menyangkut keyakinan iman seringkali membangkitkan persoalan sensitif. Hal ini mengapa ada baiknya seni rupa berada di lura agama, agar lebih bebas dan tanpa jarak dalam mengkomunikasikan spiritualitas iman kristen. Agama tradisi sering mempermasalahkan forma-forma keagamaan dari pada mempraktikan kualitas suatu penghayatan keagamaan. Kedewasaan orang beragama akan nampak dari sikap hidup untuk berbagi kasih. Perupa mensyukuri akan panggilan keseniannya untuk menyaksikan betapa Allah hadir menyatakan harmoni kasih di tengah keragaman budaya.

“I paint what I can see, what I can touch, what I can feel—a utopia of love expressed in the reality of life...The Kingdom of God has already come when we practice love”.

Pemersatu kemajemukan budaya Indonesia, yakni dasar ideologi Pancasila dan semboyan hidup “Bineka Tunggal Ika” (yakni, berbeda-beda tetapi tetap satu) telah selesai disematkan dalam sanubari tiap manusia Indonesia. Penghayatan suatu keagamaan sepatutnya menggambarkan sikap toleran, menghargai, tulus dan saling membantu. Inti dari peribadatan agama Islam maupun kristen di letakkan atas cinta kepada Tuhan (hubungan vertikal) dan cinta kepada sesama manusia (hubungan horisontal). Falsafah Jawa pun membumikan prilaku memayu hayuning bawono (bahasa Jawa: memperindah keindahan dunia dengan prilaku hidup). Demikian indahnya sejatinya apabila nilai-nilai tersebut dinyatakan dalam mengelola kegiatan hidup bersama meskipun dalam realitasnya belum terasa demikian. Kekristenan masih dianggap sebagai agama minoritas saat ini, masih beribadah dalam tekanan, diskriminasi, penolakan.

Masih melekat ingatan peristiwa kerusuhan masif anti kristen dan anti cina pada Mei tahun 1998, terjadi di Jawa Timur, Jawa Tengah, hingga Jawa Barat. Lukisan-lukisan bergaya surealis-deformatif karya Wisnu Sasongko dari tahun 1999 hingga 2000, mengeksposisi betapa rendahnya rasa kemanusiaan serta rapuhnya ikatan persaudaraan sebagai satu warga bangsa yang beradab-bermoral-beragama. Namun dalam praktiknya, landasan ideologis serta slogan-slogan kerukunan, budaya tenggang rasa, masih begitu rentan dikoyakan oleh sikap primordialisme serta fanatisme sempit. Gelombang kebencian berbasis keagamaan telah memporak-porandakan jalinan persaudaraan sosial-budaya masyarakat Ambon dan Poso, masih menjadi ingatan peristiwa traumatis serta keprihatinan mendalam yang tercermin lewat dramatisasi tematik, komposisi, bentuk-bentuk yang cenderung verbal, serta warna-warna kelam-sendu.

Fanatisme keagamaan berpotensi menjadi acaman serius, di mana tafsir-tafsir agama seringkali dipakai demi memaksakan suatu tujuan perubahan radikal dalam masyarakat. Kejadian runtuhnya menara WTC pada 11 September 2001, bom Bali I (2002), bom Bali II (2005) seakan menjadi monumen peringatan akan ancaman sentimentalitas keagamaan. Seorang penulis, Samuel Tumanggor melontarkan nada geramnya melihat budaya kekerasan di negri ini, “Jadi dalam seni kita dibawa pada pertanyaan serius: Sudah berhasilkan kita membangun jiwa Bangsa?..Dengan kata lain, aspek jiwaninya tidak atau sangat kurang diasah. Majal. Tumpul”.

“..Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar dari pada hidup keagamaan..”. Praktik keagamaan ritualistik akan sulit untuk mengharapkan suatu perubahan spiritual, selain terjagannya tradisi. Perupa merasakan betapa isu sentimantalitas yang mengarah pada fanatisme keagamaan akan terus menjadi tantangan bagi kekristenan Indonesia. Salah satu cara menyikapinya adalah dengan menuangkan eksposisi seni ke dalam pendekatan kultural. Iman kristen menyatakan suatu kensicayaan mengecap kerajaan damai di bumi seperti di Surga. Memang tidak ada satu pun yang bisa menjelaskan cara kerja keyakinan iman.

Image no.7. Karya Wisnu Sasongko, berjudul, “The Gospel Image N0.1” dibuat tahun 2014, acrylic on canvas, ukuran 80x100 cm (dipamerkan di even STTJ, Pelita galeri UPH, and Seruni Galeri).


Lukisan berjudul “The Gospel Image N0.1” menampilkan gaya spontan-impresif-dekoratif. Elemen garis, bentuk-bentuk deformatif, dan paduan warna monokromatik coklat-kekuningan merepresentasikan tanah di mana perupa tinggal. Garis-garis spontan tebal-tipis dan dominasi warna monokromatik kekuningan di mana orang-orang tengah asik bersosialisasi. Ada peristiwa perjamuan kudus di mana para murid berdiri sedang meminum anggur yang tersedia di atas meja, ketika Penyaliban Yesus sedang berlangsung maka para wanita tengah menagisi-Nya, ada peristiwa Yesus Dimuliakan terangkat ke Surga. Ada pula impresi kepasrahan orang beriman ketika datang pencobaan dari si ular iblis dan orang-orang disekitar-Nya pun bersimpuh menyembah, ada peristiwa Yesus tengah duduk di atas batu tengah menggendong anak kecil sembari bercerita tentang Kasih Allah. Lukisan berjudul “Imaji Injil” merupakan suatu eksposisi imajinatif untuk menghayati Kehadiran Allah di tengah-tengah kehidupan kita saat ini (lihat image karya No. 7).

Biasannya injil diwartakan melalui kotbah atau pun tulisan mengenai Kelahiran Yesus, Pembabtisan, peristiwa-peristiwa mujizat, pengajaran, pemuliaan Yesus bertemu dengan Musa dan Elia, perjamuan kudus, Penyaliban-Nya, Kebangkitan-Nya, serta Kenaikan-Nya ke Surga. Kali ini perupa secara khusus ingin menghayati injil dalam imaji peristiwa sehari-hari. Eksposisi injil ditampilkan dengan wajah serta suasana berbeda, yakni dunia keseharian yang dialami oleh perupa sendiri. Peristiwa injil dileburkan dalam suasana kerakyatan, di mana ada aktivitas orang-orang sedang naik sepeda berboncengan, orang sedang memperbaiki rumah khas Jawa, ada tukang bakso yang sedang menjajakan danganannya keliling. Ada orang tengah memberi makan ayam, ada sapi, ada anjing kampung yang berkeliaran mencari makan, ada muda-mudi yang tengah jatuh hati dan ada orang memainkan irama musik kasmaran, anak-anak kecil tengah bermain dengan teman-temannya, ada peminta-minta, ada pula orang tengah bermeditasi di atas bebatuan. Ada impresi perempuan terduduk dihakimi masa karena perbuatan zinahnya, ada peristiwa kematian serta kunjungan orang-orang untuk melayat.

Injil yang dihayati sebagai spirit hidup kristen semestinya disaksikan untuk merespon persoalan kemiskinan, ketidakadilan, keterbelakangan akal-budi, alienasi budaya. Gereja sebagai kumpulan orang-orang percaya dipanggil ke luar mewartakan injil untuk menyentuh mereka yang kurang beruntung hidupnya. Injil tidak hanya perasaan suka-cita beribadah di gereja sementara di luaran banyak yang “haus dan lapar”. Injil pun bisa dibangkitkan melalui imaji kreatif dalam eksposisi seni lukis perupa Wisnu Sasongko.

2. Rupa Yesus
Bagaimana Imaji Potret Yesus? Hal ini menjadi tantangan bagi perupa ketika ingin melukiskan potret Yesus, padahal belum pernah ada pengalaman perjumpaan fisik. “...As an artist, I can only imagine Jesus” . Ada banyak repoduksi karya perupa di sepanjang jaman, melukiskan potret Yesus dalam berbagai wujudnya. Potret Yesus pada umumnya mencirikan berwajah damai-berwibawa ala etnis Yahudi, rambut-Nya panjang dengan jambang lebat serta selalu berpenampilan dengan mengenakan jubah putih. Perupa merasa tidak ingin merepoduksi hasil pengalaman dari pelukis terkenal sekalipun. Perupa justru ingin melukiskan Potret Yesus dalam pengalaman pribadi secara kontekstual.

Jika pelukis klasik renaisans memerlukan model yang dirasa dapat mewakili sosok yang akan dilukisnya, maka perupa mendapatkan gagasan sosok model yang tidak lain adalah figur guru semasa di sekolah menengah pertama (SMP). Kenangan akan sosok guru tersebut begitu mengesankan sifat kesabaran, keceriaan, kelucuan, kepeduliannya dalam mendampingi masa kenakalan remaja perupa semasa SMP. Mengingat pengalaman perupa akan segala ulah keisengan yang seringkali menimbulkan kegaduhan suasana di sekolah, ditanggapi oleh beliau dengan cara pendampingan yang manusiawi, namun ekstra sabar dan selalu murah senyum. Pengalaman tersebut melatarbelakangi pendekatan yang paling mewakili karakteristik potret Yesus, sekalipun dirasa jauh dari kemiripan rupa-Nya pada umumnya.

Lukisan potret berjudul, “Sang Guru” menggambarkan potret Yesus dilukiskan tengah tertawa (lihat image karya no. 8.). Perupa sengaja menggantikan ikonografi klasikisme penggambaran potert Yesus sebagai sosok sang guru dalam konteks pengalaman mengenali sifat-sifat kasih. Jika membandingkan potret Yesus pada umumnya, maka ada beberapa kejanggalan atau anomali, antara lain: penggambaran mimik wajah ramah-Nya mencirikan sebagai orang lokal Asia, yakni hidung-Nya mengembang tidak semancung orang Barat serta warna kulit-Nya kecoklatan sawo-gelap. Bentuk wajah-Nya pun menonjol bagian tulang pipinya, bermata besar dan kelopaknya menonjol layaknya mata orang pribumi Jawa. Ia pun memakai kaca mata yang sering diasosiasikan sebagai orang berilmu, namun justru berasa naif.

Image no. 8. Karya Wisnu Sasongko, berjudul, “Sang Guru”, dibuat tahun 2012, Acrylic on canvas ukuran 100X120 Cm (dipamerakan even di UKDW; 2010, STTJ; 2014).


Potert Yesus yang ingin perupa lukiskan bukan atas pendekatan naturalis-realis. Melainkan wajah dan seyum ramah itu merupakan ingatan akan figur sang guru SMP yang baik dalam pengalaman perupa ketika selagi memasuki masa pubretas kala remaja. Sang guru tersebut selalu menanamkan karakter kasih, kerelaan serta kesabaran mau mendampingi siswa-siswi nakal di SMP yang prilakunya susah untuk dikendalikan. Setelah dewasa, disadari bahwa kenakalan remaja akibat kurang kasih sayang dari orang tua serta akibat salah pergaulan, sehingga perupa melampiaskan prilaku brutal di sekolah serta dilingkunganya.

Sang guru ini punya pendekatan kepedulian, di antara guru-guru lain yang melakukan pendekatan normatif. Sang guru dalam kesahajaan sikapnya tidak menghukum secara fisik melainkan mengamati, membangun komunikasi, dan selalu sabar mendampingi siswa-siswinya. Perupa merasakan pengalaman perjumpaan dengan sosok Yesus, bukan pada fisiknya, tetapi sifat-karakter kasih yang dipancarkannya. Personifikasi potret Yesus dapat dikenali dalam diri siapapun orang-orang di sekitar kita, dan sudahkan kita dipenuhi akan pengalaman kasih Yesus kepada sesama?

Aspek latarbelakang karya ini berwarna hijau-biru beronamen sketsa goresan-goresan putih menggambarkan impresi figuratif serta bentuk-bentuk asimetris. Pada bagian sisi kiri lukisan terdapat penggambaran logo software seperti, office, mozilla, internet exploler, chrome. Representasi software dan teknologi internet pada latarbelakang, seolah menandai kita tengah hidup di dunia informatif internet dengan segala kabaikan serta dampak buruknya. Membangun sosialitas pergaulan, konektivitas dunian maya melalui face book, twiter, line, whatsapp merepresentasikan absennya kehadiran diri digantikan lewat realitas maya.

(artikel bersambung)

Comments

Popular posts from this blog

Biografi Seni Lukis Wisnu Sasongko